matanya mulai membasah


kenapa sih semua orang harus bertanya…

kenapa dan kenapa?

sedangkan aku tak pernah tau sebabnya…

kenapa sih semua orang harus menunggu jawaban…

siapa dan siapa?

sedangkan aku tak pernah tau jawabnya…

mulai mencari selembar saputangan di dalam tas


lalu aku harus bagaimana…

kemana harus ku langkahkan kaki?

lalu aku harus menjadi siapa…

lakon apalagi yang harus ku perankan?

berdiri dengan gontai dan melangkah dengan kikuk


aku telah berusaha semampuku dengan semua lelahku…

tapi tak mampu juga ku rengkuh semua impi dan anganku…

aku telah berjuang sekuatku dengan semua jerihku…

tapi seakan semua rintangan tak tersebrangi…

aku telah mencoba menghapus semua noda itu…

masihkah tercium bau busuk?

berhenti di ujung gang sempit itu


mungkin ini saatnya untuk kembali pulang…

mungkin ini saatnya untuk berkutat denganpeluh disana

mungkin ini saatnya untuk menyerah…

kembali merogoh tasnya dan meraih sebatang gincu merah menyala


ahhh…

mungkin seorang laknat takkan pernah bisa menjadi putih…

mungkin seorang pelacur harus kembali ke dalam lembah bejat itu…

matanya kembali basah…


kenapa harus selalu ku bawa gincu sialan ini..

mungkin kebusukan itu menyebar setiap kali ku poleskan ke atas bibirku…

sialan… siapa sih yang perduli… kau memang sudah busuk…

ingin bertobat… siapa yang percaya.. bahkan Tuhan pun tidak… laknat…

masuk ke dalam taxi

mau kemana mbak?

ke gg. langgar mas…

gg. langgar dekat tunggak mbak? ngapain kesana? ini udah hampir tengah malam… mbak ga takut?

diam membisu

takut?

lebih dari separuh hidup hanya berisi ketakutan…

takut besok tak bisa makan…

takut besok diusir dari rumah petak…

takut besok akan terkena herpes…

takut besok akan tertular hiv…

takut besok tak pernah datang…

takut besok mati sendiri…

takut membusuk di kebusukan ini…

jadi kenapa sekarang harus takut…

matanya mulai basah kembali…

ahhh lagi lagi menangis…

diam tolol…

apa gunanya air matamu?

mencari belas kasihan?

mengulurkan selembar lima puluh ribuan


makasih mbak… hati-hati disana… banyak hidung belang… kalo digodain teriak aja maling pasti kabur dia mbak…

menarik nafas dan mulai berjalan

naif…

kau tak kenal siapa aku…

bukan hidung belang itu yang mengejar aku…

aku yang…

melirik…

mendesah…

mengerlingkan mata lentik ini…

membasahi bibir yang masih basah…

menyodorkan diri…

mencium bau parfum murahan dan rokok kretek bercampur keringat

dimana mami, tong?

laaaahhh… koq balik lagi teh? bukannya terakhir mau coba kerja di restoran…

dimana mami, tong?

iiihhh… masih sok aja… ditanya sok misterius… tuh di pojokan sama Om Duma…

berbisik lirih

tolong… aku butuh pekerjaan itu

eh bodoh… kau kira aku suka melihat kesombonganmu waktu itu…

sekarang pergi saja.. tidak ada tempat untukmu bahkan sebagai pelacur disini…

to be continued


  1. mmm keren nich sis… fisiknya :D wahhh mudah-mudahan nich ntar anakmu ini jadi penulis sis :D

  2. weits..weits.. diam2 yaaaaa…? ;)
    Ceritamu keren boss.. lanjuuttt…




Leave a Comment